05
Feb
11

Sekali Lagi: Mesir, Amerika dan Kita


oleh Hanibal Wijayanta pada 05 Februari 2011 jam 5:49

Pada tulisan pertama tentang “Mesir, Amerika dan Kita” itu, saya semata ingin menampilkan cerita singkat tentang mengapa Mesir menjadi pusat perhatian umat manusia, termasuk Amerika tentu saja. Apa yang terjadi di Timur Tengah dari dulu hingga kini menurut saya adalah perebutan kepentingan. Tengoklah berbagai Imperium, Penguasa dan Negara Adidaya silih berganti menguasai negeri sungai Nil ini. Sejak pergantian dinasti Firaun, mulai dari wangsa Nubia hingga Cleopatra, Imperium Romawi sejak Julius Caesar, Mark Anthony, Vespasianus, Hadrianus dan sebagainya, kemudian Kekaisaran Macedonia sejak Alexander Yang Agung menginjakkan kaki ke Alexandria hingga Ptolemius memimpin ekspedisi mengarungi seberang gurun pasir dan lautan, jaman Kekhilafahan Islam sejak Amr bin Ash mendirikan Fusthath, kekhilafahan Fathimiyah membangun Al Azhar Asy Syarif, Salahuddin Al Ayyubi membangun Qal’at di dinding batu Al Qahirah dan kemudian berangkat dan menyerbu Jerusalem. Bahkan Napoleon pun tergerak untuk datang dan menguasai Nil. Inggris merebut dari Perancis, kemudian giliran Amerika menguasinya. Menurut saya semua lebih karena satu hal yang sama yakni KEPENTINGAN….

Ada banyak kalimat yang bisa menerangkan tentang KEPENTINGAN ini… Mulai dari kepentingan untuk mengeruk kekayaan, kepentingan untuk membangun kekuasaan, kepentingan untuk menyebarluaskan faham, kepentingan untuk menjaga stabilitas kawasan, kepentingan untuk mengamankan kawan, dan bahkan kepentingan untuk mengamankan kepentingan pun terjadi… Nah, dalam tulisan saya itu, saya terutama ingin mengungkapkan tentang kepentingan Amerika Serikat, sebagai negara Adidaya terkuat saat ini, Amerika Serikat yang sudah terbiasa dengan jargon sebagai polisi dunia, Amerika Serikat yang selalu ingin tampil, bereran, berpengaruh dan selalu ingin ikut menuliskan sejarah peradaban manusia sejak perang dunia ke dua.

Kita dapat melihat dengan mata kepala kita, betapa Amerika Serikat senantiasa ingin menyebarluaskan faham, budaya dan nilai-nilai barat dengan berbagai namanya? Bukankah Samuel Huntington dalam The Class of Civilization, juga Bernard Lewis dalam What Went Wrong: The Class Between Islam and Modernity in Middle East mengatakan bahwa Amerikalah pewaris budaya Barat. Amerikalah yang mengemban tugas mulia dan berkewajiban untuk menyebarkan nilai-nilai peradaban Barat kepada ummat manusia. Mereka pula yang mengatakan bahwa Islamlah ancaman bagi dunia barat, Islamlah yang bakal mengganjal peradaban barat dan Islam pulalah yang bertentangan secara diametral dengan nilai-nilai barat.

Lalu bagaimana dengan yang lain? Komunisme sudah selesai, Sosialisme telah berevolusi, Fasisme sudah masuk ke liang kubur, Totaliterianisme sudah ditinggalkan. Pancasila? Hmmm… kalau melihat kondisi Indonesia di masa Gayus ini tampaknya patron Mas Syamsul, Allahu Yarham Almarhum Al-Allamah Kiai Ahmad Shiddiq pasti akan terbangun dari kuburnya. Apalagi setelah melihat para pemimpin bangsa ini hanya merapalkan Pancasila di mulut, namun tangan, kaki dan otaknya lebih nyaman dengan Wihdatul Adyan, bukan Ketuhanan yang Maha Esa, Liberalisme bukan kemanusiaan, internasionalisme bukan persatuan, demokrasi bersenjata kayu dan rupiah dari pada kerakyatan, serta individualisme bukan keadilan. Apa mau dikata, Pancasila memang bukan seperti demokrasi barat, bukan liberalisme, tapi juga bukan teokrasi dan juga bukan sosialisme apalagi komunisme. Justru karena sejak kecil dididik tentang Pancasila, menghafalkan dan menjadi juara cerdas cermat tentang P4, ikut penataran P4 sejak SMA hingga kuliah, tampaknya kita harus mengakui bahwa Pancasila memang ideologi yang bukan-bukan…

Saudaraku, kalau kita menyetujui Demokrasi, nilai Demokrasi mana sih yang akan kita pilih. Bagian mana sih kebaikan-kebaikan nilai Demokrasi yang tengah diemban dan disebarluaskan Amerika Serikat itu? Ambil contoh yang sedang kita bahas. Kita semua tahu bahwa Anwar Sadat dan Hosni Mobarak adalah anak asuh Amerika Serikat -–kalau ada sahabat saya yang rada alergi dengan istilah antek (hehehe)–, begitu pula Zine Al Abidine ben Ali, Manuel Noriega, Augusto Pinochet, Saddam Husein, juga Bapak Pembangunan Kita Soeharto. Kita tak bisa menutup mata bahwa mereka adalah boneka Amerika, yang disokong, didukung, diduiti dan dipertahankan kekuasaannya hingga berpuluh tahun. Bahkan jika mereka melakukan upaya anti-demokrasi dengan membatalkan pemilu, menindas rakyat dan membreidel pers, tetap saja mereka dipertahankan asalkan tetap tunduk pada kemauan induk semang dan menjaga kepentingan sang induk semang.

Tengoklah sedikit lembaran sejarah di Mesir saat berkali-kali Mobarak menindas unjuk rasa, membreidel pers, dan membatalkan pemilu karena kaum oposisi menangguk suara yang terus bertambah. Tengok pula Jenderal Manuel Noriega yang menindas rakyatnya sendiri, juga Saddam Husein yang meracuni warganya sendiri di Turkistan dan kaum Syiah tapi Amerika Serikat dan negara-negara barat seolah bisu dan tuli, juga ketika Israel menyerbu Shabra dan Shatila di Libanon tahun 82 serta ketika Operasi Castlead menghancur leburkan Gaza. Bukankah Soeharto membantai PKI pun atas masukan data dari CIA? Bukankah Taliban berkuasa pun karena tangan CIA, pelatihan militer dari CIA, pasokan Stinger, RPG dan segala senjata. Bahkan jika kita baca Buku My Jihad-nya Aukay Collins kita akan menemukan berbagai fakta bahwa masuknya mujahidin dari berbagai negara termasuk Indonesia yang kemudian bernama Jamaah Islamiyah ke Afghanistan itu pun atas restu Paman Sam, pelatihan dari CIA dan pasokan senjata dari perusahaan senjata Amerika Serikat. Bahkan, mohon maaf, kalau kita lebih mendalami lagi, kita akan menemukan banyak catatan bahwa Ayatollah Khomeini berhasil menggulingkan Syah Reza Pahlavi pun karena skenario dan restu Amerika.

Tapi jangan harap mereka akan terus didukung jika para boneka, anak asuh dan antek itu mulai mengganggu kepentingan Amerika. Soeharto di jatuhkan dengan gempuran krisis ekonomi, Saddam digantung, Noriega ditangkap seperti maling jemuran, Pinochet jadi buruan sampai tua, Taliban dihancurkan dengan isu terorisme padahal mereka pula –baca CIA– yang memasok senjata, melatih bikin bom dan memperluas jaringannya hingga ke berbagai negara. Itukah nilai-nilai mulia Amerika yang ingin kita junjung tinggi…?

Memang benar, Soeharto, Saddam, Noriega, Pinochet, dan sebagainya membuat berbagai borok akut di dalam negeri, dengan berbagai pelanggaran HAM, merekayasa hingga membatalkan pemilu, korupsi, kolusi dan nepotisme, membangun kekuatan ekonomi semu, dan sebagainya. Tapi mengapa mereka tidak digoyang ketika mereka baru berkuasa lima atau sepuluh tahun. Soeharto misalnya, bukankah pada 14 Januari 74 telah menghancurkan gerakan mahasiswa dan masyarakat pro demokrasi? Tapi mengapa pada tahun 1975 Soeharto justru didorong, dipersenjatai dengan ribuan pucuk M-16 eks Vietnam, cluster bomb, OV-10, A-4 Syhawk dari Israel, dan disupport habis untuk masuk ke Timor Timur? Bahkan menurut Bilveer Singh,  Henry Kissinger baru saja naik pesawat dan meninggalkan Jakarta setelah bertemu Soeharto ketika permulaan operasi Seroja dilancarkan dengan bombardier dan penerjunan pasukan yang kesiangan di Dilli.

Mengapa ketika TNI menggelar operasi Jaring Merah kemudian DOM di Aceh tahun 1990, Amerika Serikat tetap membiarkan Soeharto berkuasa? Mengapa saat itu mereka tidak mengembargo persenjataan kita, mengapa saat itu pembelian F-16 justru diteken? Namun, apa mau dikata, ketika Soeharto dinilai sudah tidak setia kepada Amerika, mulai ingin membeli Sukhoi, mulai mendekati Islam, kontrak-kontrak karya mulai diutik-utik dan sebagainya, semua seakan terlupakan? Mengapa baru di tahun 1998 embargo persenjataan diterapkan, mengapa baru pada tahun 1995 urusan Timor Timur dipermasalahkan? Padahal sejak 1975 Timor-timur telah menjadi lahan pembantaian, lahan pangkat dan lahan bintang jasa bagi para perwira TNI kita.

Betapa gigihnya Amerika merecoki Evo Morales yang kiri dan menerapkan kebijakan nasionalisasi perusahaan Amerika itu ketika menang pemilu, betapa gampangnya Amerika dan negara-negara Barat merestui pembubaran parlemen di Aljazair ketika FIS menang dalam pemilu paling demokratis di negeri itu tahun 94-95, sementara Amerika Serikat justru terus membiarkan rezim Arab Saudi yang despotic dan antidemokrasi terus berkuasa –kecuali ketika mereka merekayasa pembunuhan Raja Faisal lewat tangan keponakannya sendiri– jelas menjadi teladan betapa Demokrasi yang diusung Amerika adalah ambigu dan berstandar ganda. Saya setuju dengan pendapat sahabat saya, bahwa sejak dulu hingga kini Amerika Serikat hanya mendukung rezim yang menguntungkan mereka. Maka, apa mau dikata, kalau bukan kepentingan –sekali lagi KEPENTINGAN Amerika—yang menjadi panglima,

Lalu, apakah kita harus memalingkan muka dan mengatakan bahwa tudingan bahwa Amerika Serikatlah biang semua bencana hanyalah hantu yang dibikin-bikin oleh penguasa despotic? Benarkah pernyataan sinis tentang “Amerika Lagi… Amerika Lagi…” adalah pembelokan dan pembalikan? Benarkah itu “Cuma” lagu lama? Benarkah itu hanya sekadar hantu luar yang dibangkitkan lagi?

Mohon dicatat bahwa saya tidak mengatakan bahwa pergolakan yang terjadi di Mesir adalah hasil rekayasa Amerika. Saya katakana bahwa, “meski sudah sepekan lebih aksi demo terus berlangsung di Mesir, sebenarnya keadaan saat ini masih cukup membingungkan. Berbeda dengan pola sebelumnya yang umumnya perjuangan anti rezim di Mesir dimotori orang-orang Ikhwan, kali ini penggerak utama demo dan pengendali massa bukanlah orang Ikhwan. Kaum oposisi lain dari kelompok buruh pun tak punya tangan yang kuat ke simpul massa.”

“Menurut seorang kawan yang aktif di jaringan blogger dan hacker internasional, masa demonstran di Mesir justru digerakkan oleh kaum muda yang aktif lewat jejaring sosial di Internet, blogger dan sebagainya. Bahwa orang-orang ikhwan juga ikut menyemarakkan aksi massa, namun secara keseluruhan massa itu bukan massa mereka. Karena itu pula media Barat maupun timur tengah sendiri bingung menganalisanya. Mereka hanya bisa menemukan satu dua aktifis di tingkat lapangan, tapi bukan mastermindnya sehingga mereka kemudian menyimpulkan bahwa ini benar-benar people power.”

Beberapa hari lalu, mantan Presiden Jusuf Kalla menulis sebuah artikel yang menarik di harian Kompas dengan judul Mesir: Pangan, Minyak dan Revolusi. Nah, dalam menanggapi tulisan JK, rupanya ada beberapa kawan saya yang masih percaya pada adagium lama bahwa sebuah revolusi butuh figure pemimpin, sementara JK berpendapat bahwa saat ini tidak dibutuhkan lagi figure seorang pemimpin. Kita masih belum tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi, tapi paling tidak, kalau kita memakai adagium Eric Hoffer dalam The True Believers –yang pasti beberapa kawan saya sudah khatam dan bahkan hafal luar kepala (hehehe), kita akan mengerti gerakan massa itu terjadi. Menurut Eric Hoffer, gerakan massa disatukan terutama oleh kondisi yang sama, yaitu rasa benci. “Perasaan benci dan marah terhadap situasi dan kondisi, serta kecemburuan sosiallah yang menjadi penyebab kuatnya sebuah gerakan massa.”

Selanjutnya, Hoffer mengatakan, dari semua unsur pemersatu gerakan massa, rasa benci adalah unsur yang paling mudah diperoleh dan berlingkup luas. “Rasa benci merenggutkan dan melemparkan individu jauh-jauh dari pribadinya. Ia menjadi partikel tak dikenal, gemetar tak sabar ingin segera bergabung dan melarutkan diri dalam kumpulan orang yang sama sifatnya dan menjadi satu massa yang berkobar.” ujarnya. Menurut saya, rasa benci, marah dan frustasi kepada Rezim Mubarak yang terakumulai dan digalang oleh para blogger, hacker dan peminat social media inilah yang menyatukan mereka sehingga rela bertahan di Tahrir Square, menahan gebahan aparat dan balik menyerang.

Tapi ada kelanjutanya…. “Bila gerakan massa mulai menarik bagi orang yang lebih berminat memupuk kedudukannya sendiri saja, ini suatu tanda bahwa gerakan itu sudah tidak lagi bergairah mencipta dunia baru, tetapi lebih condong merangkul dan memelihara masa kini. Gerakan itu tidak lagi merupakan suatu gerakan massa tetapi telah menjadi suatu usaha…” kata Hoffer. Nah, siapa yang akan memanfaatkan situasi ini? apakah orang yang sudah lama diasuh Amerika, ataukah sahabat-sahabat dari Ikhwanul Muslimin, mungkin kawan-kawan Sosialis, atau anak-anak muda yang cerdas itu… Mari kita lihat bersama….

Nah, apa yang ditulis Jusuf Kalla menurut saya adalah peringatan kepada pemerintahan SBY tentang persoalan ketahanan pangan yang tidak main-main. Bukankah apa yang menjadi penyebab keriuhan di Tunisia dan Mesir salah satunya dipicu oleh kenaikan harga pangan  akibat kegagalan panen dan ketergantungan Mesir pada import. Bukankah hal itu pula yang terjadi di Indonesia kini. Di tengah gempuran perubahan iklim ekstrim, bencana alam dan kegagalan panen akibat hama, pemerintah kita kini masih berdalih bahwa produksi beras kita mencukupi, meski diam-diam harus impor. Padahal, Vietnam, dan Thailand langganan impor kita sudah mulai menutup pintu ekspor mereka karena ancaman kerawanan pangan.

Sesungguhnya pemerintah kini pun sudah mulai deg-degan. Kawan-kawan saya di Departemen Pertanian sendiri ragu akan kemungkinan panen raya tahun 2011. Apalagi mereka sebenarnya tahu bahwa hitungan Bulog, Departemen Pertanian dan BPS berbeda-beda. Semua tergantung bagaimana cara mereka mensurvei. Jika kondisi perubahan iklim terus berlanjut sampai bulan April, bisa dipastikan bahwa panen pertama akan terganggu, produksi beras anjlok, harga beras dan bahan pangan lainnya melonjak, dan sebagainya. Pada gilirannya kemiskinan, kurang pangan akhirnya akan memicu kemarahan massa.

Di titik inilah, apa  yang terjadi di Mesir terasa begitu dekat dengan kita…


0 Responses to “Sekali Lagi: Mesir, Amerika dan Kita”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


sadar awal

S = Sadarilah dimana kamu berada U = Untung malang ada pada ketenanganmu R = Rasa takut harus kamu kuasai V = Viva hidup hargailah ia I = Ingatlah dimana kamu berada V = Vakum atau kekosongan isilah segera A = Adat istiadat harus kamu kuasai dan hormati L = Latihlah dirimu dan belajarlah selalu

hiruphurip

pilihan

tnk's u

  • 59,561 hits

%d blogger menyukai ini: