04
Nov
10

WADITRA TRADISIONAL CELEMPUNG


Waditra tradisional ini dibuat dari ruas bambu dengan sembilunya sebagai senar. Kegunaan waditra ini adalah sebagai pengatur irama lagu dalam orkestrasi yang dinamakan Celempungan.

Adapun bahan yang digunakan berupa seruas bambu (misalnya awi gombong) ukuran diamater lebih kurang 20 cm, panjang lebih kurang 40 cm. Yang dijadikan muka, ditatah diratakan (maksudnya untuk membuang sembilu yang tidak dipergunakan sebagai senar). Bagian tengahnya dilubangi agar suara senar menggema dalam tabung. Adapun kedua senar tersebut diatur nada-nadanya, yaitu barang-galimber atau nada-nada lainnya yang dikehendaki si pembuat. Kedua senar itu dihubungkan dengan bambu berbentuk persegi panjang (5×3 cm), dan disebut sumbi atau lilidah yang dipasang tepat pada tengah permukaan atau diatas lubang. Disamping itu dilakukan pelubangan lebih kurang 10 cm, untuk mengatur getaran volume udara yang diatur oleh telapak tangan kiri. Di ujung pangkal muka celempung terbentang 2 kerat bambu (5×1 cm) untuk alat penegang senar, dinamakan tumpangsari atau inang.

Celempungan dibunyikan dengan mempergunakan alat pemukul yang disebut tarengteng. Celempungan juga dilengkapi dengan 2 buah kacapi (kacapi indung dan kacapi rincik), goong tiup dari seruas bambu atau goong buyung. Agar lebih menarik lagi diiringi suara sinden. Lagu-lagunya antara lain: “Angle”, “Banjaran”, “Cangkurileung”, “Dayung Sampan”, “Eceng Gondok”, “Gendu”, “Hayam Ngupuk”, dan sebagainya. Sekarang musik bambu ini jarang didapat sebab kalah oleh gamelan. Hanya di daerah-daerah tertentu saja masih terdapat celempungan, terutama di desa-desa.

Waditra celempung sendiri aslinya adalah alat yang tidak memliki nada baku, karena bunyi celempung keluar ketika alatnya dipukul pada pelat besinya, yang pada sebelum bunyi dihasilkan dengan cara memeukul hinis bambu, yang mana nadanya keluar sesuai dengan keinginan atau kepiawaian si penambuh waditra. Dalam celempungan, waditra kacapi dan biola adalah penuntun nada, dimana laras yang dipakai bisa jatuh pada salendro atau pelog, sedangkan dalam celempung nada yang dihasilkan bisa fleksibel yang kondisinya tidak dipatok oleh nada, bahkan celempung ini seringkali jatuh pada nada dimana tidak di salendro ataupun di pelog, nada tersebut sementara ini dinamakan nada timber, dia ada tapi belum terdeskripsikan dengan jelas, tapi jika hal ini di teliti lebih lanjut dia akan bisa memiliki nada yang mana alat yang dipakai bisa disesuaikan dengan keinginan si penabuh, karena bunyi yang dihasilkan dalam celempung sangat tergantung pada tipis tebalanya bambu yang dipakai.


0 Responses to “WADITRA TRADISIONAL CELEMPUNG”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


sadar awal

S = Sadarilah dimana kamu berada U = Untung malang ada pada ketenanganmu R = Rasa takut harus kamu kuasai V = Viva hidup hargailah ia I = Ingatlah dimana kamu berada V = Vakum atau kekosongan isilah segera A = Adat istiadat harus kamu kuasai dan hormati L = Latihlah dirimu dan belajarlah selalu

hiruphurip

pilihan

tnk's u

  • 59,561 hits

%d blogger menyukai ini: