04
Nov
10

SEJARAH KARINDING


Awalnya karinding adalah alat yang digunakan oleh para karuhun untuk mengusir hama di sawah—bunyinya yang low decible sangat merusak konsentrasi hama. Karena ia mengeluarkan bunyi tertentu, maka disebutlah ia sebagai alat musik. Bukan hanya digunakan untuk kepentingan bersawah, para karuhun memainkan karinding ini dalam ritual atau upaca adat. Maka tak heran jika sekarang pun karinding masih digunakan sebagai pengiring pembacaan rajah. Bahkan, konon, karinding ini digunakan oleh para kaum lelaki untuk merayu atau memikat hati wanita yang disukai. Jika keterangan ini benar maka dapat kita duga bahwa karinding, pada saat itu, adalah alat musik yang popular di kalangan anak muda hingga para gadis pun akan memberi nilai lebih pada jejaka yang piawai memainkannya. Mungkin keberadaannya saat ini seperti gitar, piano, dan alat-alat musik modern-popular saat ini.

Beberapa sumber menyatakan bahwa karinding telah ada bahkan sebelum adanya kecapi. Jika kecapi telah berusia sekira lima ratus tahunan maka karinding diperkirakan telah ada sejak enam abad yang lampau. Dan ternyata karinding pun bukan hanya ada di Jawa Barat atau priangan saja, melainkan dimiliki berbagai suku atau daerah di tanah air, bahkan berbagai suku di bangsa lain pun memiliki alat musik ini–hanya berbeda namanya saja. Di Bali bernama genggong, Jawa Tengah menamainya rinding, karimbi di Kalimantan, dan beberapa tempat di “luar” menamainya dengan zuesharp ( harpanya dewa Zues). Dan istilah musik modern biasa menyebut karinding ini dengan sebutan harpa mulut (mouth harp). Dari sisi produksi suara pun tak jauh berbeda, hanya cara memainkannya saja yang sedikit berlainan; ada yang di trim (di getarkan dengan di sentir), di tap ( dipukul), dan ada pula yang di tarik dengan menggunakan benang. Sedangkan karinding yang di temui di tataran Sunda dimainkan dengan cara di tap atau dipukul.

Material yang digunakan untuk membuat karinding (di wilayah Jawa Barat), ada dua jenis: pelepah kawung dan bambu. Jenis bahan dan jenis disain bentuk karinding ini menunjukan perbedaan usia, tempat, dan sebagai perbedaan gender pemakai. Semisal bahan bambu yang lebih menyerupai susuk sanggul, ini untuk perempuan, karena konon ibu-ibu menyimpannya dengan di tancapkan disanggul. Sedang yang laki-laki menggunakan pelapah kawung dengan ukuran lebih pendek, karena biasa disimpan di tempat mereka menyimpan tembakau. Tetapi juga sebagai perbedaan tempat dimana dibuatnya, seperti di wilayah priangan timur, karinding lebih banyak menggunakan bahan bambu karena bahan ini menjadi bagian dari kehidupannya.[1]

Karinding umumnya berukuran: panjang 10 cm dan lebar 2 cm. Namun ukuran ini tak berlaku mutlak; tergantung selera dari pengguna dan pembuatnya—karena ukuran ini sedikit banyak akan berpengaruh terhadap bunyi yang diproduksi.

Karinding terbagi menjadi tiga ruas: ruas pertama menjadi tempat mengetuk karinding dan menimbulkan getaran di ruas tengah. Di ruas tengah ada bagian bambu yang dipotong hingga bergetar saat karindingdiketuk dengan jari. Dan ruas ke tiga (paling kiri) berfungsi sebagai pegangan.

Cara memainkan karinding cukup sederhana, yaitu dengan menempelkan ruas tengah karinding di depan mulut yang agak terbuka, lalu memukul atau menyentir ujung ruas paling kanan karinding dengan satu jari hingga “jarum” karinding pun bergetar secara intens. Dari getar atau vibra “jarum” itulah dihasilkan suara yang nanti diresonansi oleh mulut. Suara yang dikeluarkan akan tergantung dari rongga mulut, nafas, dan lidah. Secara konvensional—menurut penuturan Abah Olot–nada atau pirigan dalam memainkan karinding ada empat jenis, yaitu: tonggeret, gogondangan, rereogan, dan iring-iringan.


21 Responses to “SEJARAH KARINDING”


  1. 1 indra
    April 10, 2011 pukul 7:48 am

    hatur nuhun info na baraya … jd terang ayeuna mah sejarah karinding teh ! nuhun pisan

  2. 2 RAMDAN
    November 5, 2011 pukul 3:26 am

    NUHUN AKH

    • November 21, 2012 pukul 6:46 pm

      Saha nu butuh karinding

  3. 4 hanz
    Desember 3, 2011 pukul 8:26 am

    i like

  4. Januari 30, 2012 pukul 12:17 am

    cinta budaya sunda

    • Februari 25, 2012 pukul 5:11 pm

      kodratt sunda salawasnaa..

  5. 7 ifvana
    Februari 26, 2012 pukul 6:29 am

    makasih artikelny ya…

  6. 8 gozrecx
    Maret 7, 2012 pukul 1:37 am

    kade ah ulah sauukur gaya hungkul…..sing ngajadi kana ngajalankeun kahirupan eta siloka karinding….mumule budaya urang…hatur nuhun

  7. 9 dunne pemberontak
    Maret 8, 2012 pukul 1:14 am

    o keren pisan lah

  8. Mei 25, 2012 pukul 8:48 pm

    SUNDA WANII!!

  9. Juni 11, 2012 pukul 11:47 am

    nuhun nya nu nyebarkeun iyei sejarah karinding hid karinding sunda

  10. 12 tyaa
    Juni 27, 2012 pukul 10:32 am

    karinding ini hrus d prknalkan pda msyarakat..
    krna saat saya membwa karinding ke tmpat umum 90%, tdak tau karinding..

  11. Juli 6, 2012 pukul 4:32 am

    di india kulon oge aya karinding teh.
    Kungsi diangge di video clip film ‘devdas chalak chalak ‘
    sumangga tenjo di yutube

  12. Juli 12, 2012 pukul 10:16 am

    Hyu urg ngammle bdaya snda,eta karinding ulah nepiken kapnah.
    eta teh tilluhur,tikarhn,tibyut,tinin,aki nnurun ken bdaya

  13. 15 sari
    November 16, 2012 pukul 4:54 am

    kok ngak bisa di copy sih………….

  14. November 21, 2012 pukul 6:44 pm

    Bangga aing jadi budak sunda saha anu butuh karinding di dieu aya produksi na dulur

  15. 17 irpan hunkul
    Desember 4, 2012 pukul 11:45 pm

    hayu urng ngalestari kn kasenian sunda.
    mun teu ku urng.
    dek kusaha deui. ath..,

    • 18 nonxs
      April 4, 2013 pukul 5:04 am

      sasaka

  16. 19 risma
    April 25, 2013 pukul 10:33 am

    pami hoyong meser karinding kamana nya? hoyong diajar… mohon info?

  17. 20 data gumilar
    Juni 2, 2013 pukul 1:28 pm

    Senang juga saya jadi orang sunda, dgn harapan mudah-mudahan karinding menjadi salah satu dari sekian banyak alat musik yang bisa menambah khasanah alat musik tradisonal khususnya di Jawa Barat umumnya indonesia dan dunia internasional. Sekedar tambahan informasi mengenai sejarah karinding yang saya dapat. Bahwa karinding ditemukan oleh seorang anak muda yang bernama KALAMANDA, cerita ini terjadi di sebuah dusun Citamiang desa Pasirmukti Kec. Cineam Tasikmalaya. hal ini saya ketahui dari seniman daerah yang bernama Bapak Ojon Eno Raharjo selaku pimpinan kesenian karinding Sekar Komara Sunda, memang benar bahwa karinding sebagai alat salah satunya untuk memikat hati perempuan, hal ini dilakukan eleh KALAMDA untuk memikat bunga desa
    yang saat itu sangat ia sukai, ( KALAMDA adalah seorang pangeran dari kerajaan Galuh)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


sadar awal

S = Sadarilah dimana kamu berada U = Untung malang ada pada ketenanganmu R = Rasa takut harus kamu kuasai V = Viva hidup hargailah ia I = Ingatlah dimana kamu berada V = Vakum atau kekosongan isilah segera A = Adat istiadat harus kamu kuasai dan hormati L = Latihlah dirimu dan belajarlah selalu

hiruphurip

pilihan

tnk's u

  • 41,265 hits

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: